Sunday, July 27, 2025
Tahun 2014, setelah pulang kampung, saya dan istri tetap berikhtiar untuk melakukan seperti apa yang kami lakukan di Kota. Menja...
Tak Sekadar Rumah dan Mereka Benar-benar Relawan
Monday, December 11, 2023
Perang Palestina-Israel, banyak menyayat hati. Beredar vidio di mana anak-anak Palestina jadi korban. Dalam perang memang selalu...
Muhammad Melawan Israel
Negara tetangga Palestina sebagian besar tak juga bisa berbuat apa-apa. Kita hanya bisa menyaksikan Libanon dengan Hisbullahnya berani berdiri menantang Israel. Atau Houti di Yaman sesekali memberi pukulan dengan rudalnya. Keduanya bisa dibilang faksi Iran (yang syiah itu). Kini Irak juga sudah mulai beraksi keras. Tapi, Arab Saudi, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait dll di mana?
Terus kita yang jauh akan melakukan apa?
Mengutuk
Mengumpulkan sumbangan
Terus apa lagi?
Muhammad, anak pertama saya, melakukan hal yang bagi saya cukup radikal. Semenjak perang Palestina (Hamas) dan Israel meledak 7 Oktober lalu, pas jam pegang HP seringkali ia membuka info tentang Palestina. Dari situ ia pula tahu produk-produk yang memyumbang ke Israel. Dan kami orang tuanya hanya memberi info yang lain saja yang belum diketahui terkait Palestina.
Dulunya, jika ia swalayan modern atau pun warung makan, belanja bebas saja. Kini, sudah mulai pilih-pilih. Memilih produk yang tidak ada hubungannya dengan Israel. Setidaknya tidak menyumbang ke Israel. KFC dan McD sangat ia sukai. Tapi kini tak mau lagi masuk di kedua tempat itu. Ia melakukan boikot. Tindakan Muhammad tentu tak bisa secepatnya bisa mengalahkan Israel dan barangkali memang kecil kemungkinan ia mengalahkan Israel. Namun yang pasti, ia sangat membantu kami selaku orang tuanya. Ya tentu kalian tahulah...hehe.
Friday, December 1, 2023
Asran Salam Mungkin tidak salah jika kita mengatakan bahwa filsafat Stoa lahir dari kemalangan. Muncul dari nasib yang tidak bai...
Menyiasati Hidup dengan Filsafat Stoa
Wednesday, October 18, 2023
Asran Salam Voltaire seorang filosof Perancis pernah berkata, cara terbaik menilai seseorang bukan dari jawaban yang dia berikan...
Bertanya ala Socrates
Wednesday, April 12, 2023
Mukadimmah Pada perkembangan pemikiran tentang manusia melahirkan berbagai cara pandang melihat manusia. Ada yang beranggapan ba...
Kenabian dan Hal-hal Sekitarnya
Mukadimmah
Pada perkembangan pemikiran tentang manusia melahirkan berbagai cara pandang melihat manusia. Ada yang beranggapan bahwa manusia seperti makhluk lain yang hanya sebatas susunan materi. Perubahan pada manusia tidak terlepas pada perubahan material saja, kehidupan seperti tumbuh, berkembang biak semua itu tidak memiliki relevansi atau kaitanya dengan non material. Pandangan lain melihat manusia tidak hanya pada susunan materil akan tetapi melihat Sesuatu yang subtantif dari manusia yakni bahwa manusia memiliki fitrah yang kecenderungan pada kesempurnaan. Dengan fitrah yang dimiliki pada dirinya sebagai sebuah nilai ke-Ilahiaan ketika di aktualkan akan membawa manusia pada proses transendensi.
Pada diri manusia, sesuatu yang tidak bisa dingkari kecederungan akan hal-hal sifatnya hewani sehingga semestinya manusia berproses dari sisi hewani menuju sisi ke-Ilahian. Karena ketika manusia hanya berhenti pada materil (hewani) maka dengan sendirinya manusia telah meruntuhkan nilai keistimewaannya. Manusia pada kenyataan seperti ini tidak bisa lagi di bedakan dengan makhluk lainnya.
Manusia sebagai penciptaan terakhir dari sekian mahkluk yang telah dciptakan Tuhan, memiliki keistimewaan karena diberi tugas untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Ketika makhluk lain di berikan tugas ini semuanya enggan untuk menerimanya. Keistimewaan manusia pada sisi lain memiliki kebebasan untuk memilih pilihan dari berbagai pilihan yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang tentunya dengan barengi konsekuensi dari pilihan tersebut. Akal sebagai salah satu pembeda dengan makhluk yang lain dan merupakan anugerah Tuhan menjadi timbangan dalam setiap perilaku manusia, Kesempurnaan akal yang di miliki manusia meniscayakan manusia tersebut akan sampai pada taraf a’rif dimana kebijaksanaan, keadilan akan menjadi sebuah karakter dalam dirinya. Nilai-nilai Ilahi menjadi wujud dalam tingkah lakunya (Akhlak).
Dalam perjalanan sejarah manusia, pada awalnya adalah ummat yang satu namun karena pertikaian dalam internal manusia yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan. Pertikaian yang di akibatkan bergesernya manusia dari fitrahnya yag sebenarnya harus diaktulakan sehingga kedamaian, persaudaraan akan tercipta. Namun, kenyataanya manusia lebih memilih mengaktualkan kebinatangannya.
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia tentunya tidak mampu untuk membawa manusia itu sendiri pada kedekatan dengan penciptanya sebagai sebuah tujuan dari segala tujuan sehinnga dengan kecintaan Tuhan (Pencipta) pada hambannya untuk menyelesaikan pertikaian itu maka, Tuhan menurunkan solusi dari kalangan manusia itu dengan mengutus manusia pilihan dari kalangan mereka sendiri yang kelak disebut sebagai Nabi, Rasul, atau pemimpin.
Manusia itu adalah ummat yang satu (setelah timbul perselesihan). Maka, Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihan. (QS. Al-Baqarah; 213)
Kehadiran nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan tentunya bertujuan untuk bagaimana manusia itu kembali utuh sebagai ummat yang satu. Ummat yang penuh dengan kedamaian, persaudaran dan yang terpenting menjadi ummat yang bersama-sama bergerak menuju kedekatan dengan Tuhan.
Nabi dan Rasul Dalam Definisi
Dalam pembahasan kenabian salah satu subtema yang mesti dijelaskan adalah definisi nabi dan rasul. Maksud dan tujuan perlunya untuk memberikan batasan kepada nabi dan rasul agar supaya kita dapat membedakannya dengan yang bukan nabi karena dalam sehari-hari kita ada dua terma yang selalu beriringan yakni nabi dan rasul. Menurut Imam Ali pada dasarnya Nabi itu berjumlah sekitar 124 ribu. Lalu apakah perbedaan nabi dan rasul?. Maka, dari pertanyaan inilah kita mulai mencoba mengurai tentang apa definisi nabi dan Rasul.
Nabi adalah pembawa berita. Nabi adalah seorang yang menerima berita disisi Allah sedangkan Rasul adalah utusan Allah yang memiliki tugas tertentu, baik itu tugas berupa perintah dari Allah untuk menyampaikan Syariat kepada ummat atapun tugas dan tanggung jawab yang lain dari pada itu. Pengetahuan yang selama ini yang berkembang dimasyarakat pada umumnnya membedakan antara nabi dan Rasul. Nabi adalah utusan Tuhan yang tidak membawa ajaran syariat tertentu sedangkan yang dimaksud dengan rasul seorang yang membawa syariat tertentu untuk disampaikan kepada umat pada hal menurut Al-Quran yang membawa syariat biasa disebut nabi dan yang tidak membawa syariat biasa disebut dengan rasul.
Pada dasarnya antara nabi dan rasul tidaklah memiliki perbedaan. Semua nabi adalah rasul akan tetapi tidak semua rasul adalah nabi. Dalam Al-Quran Malaikat tertentu juga disebut sebagai rasul seperti misalnya malaikat jibril.
“Sesungguhya Al-Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwir: 19)
Bukti lain dalam Al-Quran bahwa rasul (utusan) tidak hanya dari kalangan nabi akan tetapi juga berasal dari kalangan selain nabi. Kata Ba’ts dalam Al-Quran yang berarti (pengutusan) terdapat dalam satu ayat, dimana ayat tersebut di khususkan kaum tertentu yang diberi kekuatan oleh Tuhan untuk memerangi kaum yahudi yang congkak.
“Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan pertama dari kedua kejahatan itu, kami utus (ba’atsna) kepadamu hamba-hamba kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung dan itulah ketetapan yang pasti” (QS. al-Isra: 5)
Nabi dan rasul dua karakter yang mewujud dalam diri seseorang yang pada dasarnya tidak terpisahkan. Antara nabi dn rasul sama-sama utusan Tuhan dan juga sama-sama memiliki peran dan tanggungjawab (Tugas).
- umunnya akan tetapi bukan berarti nabi begitu saja meninggalkan syariat atau perintah Tuhan seperti shalat, puasa dan lain sebagainya. Nabi juga pada dasarnya tetap bekerja untuk memberi nafkah pada keluargaanya.
- Dalam perjalanan kenabian guna menyampaikan risalah Tuhan serta membangun manusia agar kembali kepada fitrahnya bukan berarti tanpa sebuah perjuangan serta konflik. Nabi selalu mengahadapi hambatan, rintangan dari orang yang menentangnya.
- Tentunya yang paling mudah untuk mengidentifikasi kenabian maka pastinya para nabi membawa risalah (syariat) Tuhan atau penyebar risalah yang sudah ada.
Tujuan Pengutusan Nabi
Utusan Tuhan (Para Nabi) hampir ada di tiap zaman akan tetapi ironisnya kehadirannya selalu dianggap sebagai orang hina dan bodoh dimata ummatnya. Mengapa demikian? Karena para nabi selalu ingin megembalikan manusia kepada fitrahnya memperingatinya agar kembali kepada kecenderungan untuk kepada kebenaran dan kebaikan guna mengajak manusia menuju kesempurnaanya.
“Manusia itu adalah ummat yang satu. (setelah timbul perselisihan). Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar dan pemberi peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213)
Dari gambaran Surah Al-Baqarah di atas bahwa pada awalnya manusia itu bersatu namun di kemudian hari terjadi perselisihan, mengapa perselisihan itu terjadi?. Menurut Murtadha Mutahhari karena diantara manusia mulai ingin memanfaatkan kenikmatan dunia hanya untuk diri mereka sendiri. Jelas, sebagian akan menjadi kuat (serakah) dan akan memiliki kenikmatan yang banyak sedangkan sebagian yang lain adalah lemah dan berada dalam kemiskinan. Masyarakat akhirnya nampak dalam dua bentuk yakni manusia yang berada level atas dan yang berada pada level bawah atau dalam bahasa Karl Marx masyarakat borjuis dan Proletar.
Perbudakan atas manusia yang satu terhadap manusia yang lain menjadi sebuah tontonan dalam masyarakat seperti ini. Maka, konflik atau perselisihan akan muncul dalam masyarakat yang selalu terulang sepanjang sejarah. Namun pada konteks masyarakat dimana perbudakan, perampasan hak-hak atas kaum yang lemah oleh yang kuat dalam sejarah manusia merupakan penyebab perselisihan di sana selalu pula muncul manusia-manusia pilihan (nabi) yang semestinya menjadi pelajaran bagi kita semua. Muthahhari mengurai dari sudut pandang tujuan kenabian bahwa, nabi adalah dualis dengan kata lain tujuan nabi ada dua. Yang pertama menyangkut kehidupan akhirat bagaimana manusia mengalami kesuksesan di akhirat yang kedua menyangkut kesuksesan di dunia (Tauhid sosial) guna mewujudkan kesejahteraan ummat manusia di dunia ini dan ini merupakan tujuan pokok kenabian karena melalui jalan inilah manusia dapat mendekat disisi Tuhan.
Para nabi dengan aplikasi Tauhid menjadi Tauhid sosial tampil sebagai pembebas terhadap mereka yang terampas haknya. Mereka (manusia Pilihan/Para Nabi) memasukkan kebahagiaan dalam hati orang-orang yang tertindas, menghibur mereka dengan mengajak untuk berani berkata “Tidak” kepada penidasan yang mereka alami dan berupaya memberikan kesadaran kepada penindas dengan perlawanan agar sadar akan perbuatannya sebagai penindas. Jadi bentuk pembebasan para nabi tidak hanya membebaskan kaum tertindas akan tetapi juga membebaskan para penindas. Tertindas dibebaskan dari ketertindasannya sedangkan para penindas dibebaskan dari sikap penindasnya.
Kenabian Terakhir
Pada pembahasan ini saya ingin mengutip Al-Quran terkait dengan kenabian terakhir:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Khatamun nabiyyin atau penutup para nabi disini perlu untuk diurai. Sungguh kita akan mempertanyakan keadilan Tuhan jikalau di masa-masa sebelumnya saja ada nabi. Pada dasarnya semua manusia memiliki potensi kenabian sehingga siapaun bisa menjadi nabi. Untuk lebih memudah memahami kenabian itu terbagi menjadi dua. Yang pertama nabi sebagai utusan serta pembawa berita yakni nabi yang telah ditunjuk oleh Tuhan (Kenabian Tablig). Yang kedua adalah nabi sebagai derajat ketaqwaan, kemuliaan, kedekatan dengan Tuhan (Kedudukan Spiritual).
Nabi sebagai tablig pada dasarnya inilah kenabian yang berakhir yang dimaksud khatamun Nabiyyin (penutup para nabi dan rasul) akan tetapi kenabian sebagai kedudukan spiritual tidak akan pernah berakhir. Penyebab keberakhiran kenabian tablig salah satunya dalah karena perkembangan inteletual-rasional manusia pada zaman ini mencapai kesempurnaan disbanding pada masa sebelumnya.
Keberakhiran kenabian tablig meniscayakan keberakhiran risalah (wahyu) jadi setelah Rasulullah tidak ada lagi nabi dan rasul yang membawa syariat akan tetapi penyebar risalah kenabian tetap akan ada namun penyebar risalah kenabian ini harus memiliki derajat seperti derajat kenabian guna ajaran yang dibawa oleh nabi tidak mengalami sebuah distorsi. Mengenai hal ini selanjutnya akan dibahas dalam pembahasan kepimpinan karena ini terkait siapa sepantasnya menjadi pelanjut Rasulullah SAAW untuk memimpin ummat islam. Dan karakter apa yang mesti dimiliki sebagai kategori pelanjut Rasulullah sebagai pemimpin keagamaan (spiritual) dan pemimpin sosial.
Pemimpin (Imam) dalam Definisi
Pemimpin (Imam) berarti orang didepan, kata “Imam”(Pemimpin) dalam Al-Quran memiliki arti kesucian hidup. Imam adalah orang yang punya pengikut. Dalam pembahasan kepimimpinan atau (Imamah) terjadi pula perbedaan pendapat. Keduanya sama-sama mengakui mestinya ada pemimpin setelah sepeninggal Rasulullah SAW. Namun perbedaan keduanya terletak pada cara pandang terhadap pemimpin. Pendapat yang satu mengatakan bahwa pemimpin dalam islam di tentukan oleh ummat (musyawarah) sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa kepemimpinan dalam Islam haruslah berdasarkan titah dari Tuhan atau yang ditunjuk oleh Tuhan dan dipertegas melalui nabinya.
Argumentasi bahwa kepimpinan sepeninggal Rasulullah dipilih oleh ummat karena pada dasarnya bahwa Tuhan dan Rasulullah tidak mentitahkan atau menunjuk langsung pemimpin. Jadi yang mengambil peran penting dalam pemilihan pemimpin adalah ummat. Maka, dapat dilihat setelah Rasulullah wafat jika kita membaca sejarah maka pemilihan kepimpinan ada di tangan ummat.
Kemestian Hadirnya Pemimpin
“Kami tunjuk sebagai imam yang memberikan panduan dengan izin kami” (QS. al- Anbiya; 73)
Berakhirnya kenabian akan mempersulit manusia selanjutnya untuk menuju Tuhan. Al-Quran dan hadist serta agama dengan syariat telah turunkanya sebagai penuntun. Al-Quran dan Hadis sebagai petunjuk tentunya tidak cukup karena kita manusia biasa mengalami keterbatasan dalam memahami Al-Quran dan hadist sebagaimana Al-Quran dan hadist itu sendiri jikalau tidak memiliki pemandu untuk memahaminya. Kemestian kehadiran kepimpinan dalam hal ini pemimpin agama dan sosial adalah guna untuk menuntun manusia untuk memahami Al-Quran dan hadist serta agama yang otentik.
Ciri Pemimpin
Ciri atau karateristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tentunya tidak jauh beda dengan karakteristik nabi hal ini tidak terlepas dari posisi pemimpin sebagai penerus kenabiaan. Pemimpin sebagai penerus kenabian yang bertugas untuk memandu manusia menuju Tuhan serta membangun masyarakat agar mampu mencapai tara hidup yang sejahterah. Sebagai pemandu keagamaan sepeninggal Rasulullah tentunya pemimpin tersebut memiliki kemampuan untuk menjelaskan Agama sebagaimana Rasulullah menjelaskan Agama. Pemimpin haruslah pula terjaga dan terbebas dari dosa dan kesalahan (Manusia Sempurna) ini tidak terlepas dari kesempurnaan agama. Bukankah agama itu sempurna? Kesempurnaan Agama memestikan pula untuk ditafsirkan oleh manusia sempurna guna menghindari dari kesalahan dalam mengajarkan Agama.
Tujuan Kepemimpinan
Pembahasan ini saya akan mengutip Hegel seorang filosof Idealis yang berasal dari Jerman. Dia berkata demikian “Sejarah menunjukkan bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah” . Sejarah manusia terus berulang dari kesalahan manusia. Namun disisi lain dari sejarah yang terus berulang dengan pola-pola yang berbeda akan tetapi prosesnya tetap meenggambarkan perilaku kesalahan manusia, Tuhan selalu mengutus dari kalam manusia sendiri menjadi wakilnya untuk memberikan peringatan dari kesalahan-kesalahan itu.
Pemerasan dan penindasan masih terus berlanjut sepeninggal Rasulullah maka dalam kondisi seperti ini peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan. Membebaskan manusia dari perbudakan manusia atas manusia yang lain itulah salah satu tugas dari seorang pemimpin. Disisi lain tugas kemimpinan adalah mengangkat menuju kedekatan dengan Tuhan. Pada hakikatnya tujuan kepemimpinan adalah melanjutkan tujuan kenabiaan.
Sumber Bacaan:
Dr. Ali Shariati: Tugas Cendikawan Muslim, Rajawali; 1984
Pemimpin Mustadh’afin, Muthahhari Paperbacks; 2001
Ideologi Kaum Intelektual, Mizan; 1993
Murthada Muthahhari; Manusia dan Alam Semesta, Lentera; 2002
Falsafa Kenabian, Pustaka Hidaya; 1991
Kenabian Terakhir, Lentera; 2001
Michel chodkiewicz: Konsep Ib’nu Arabi Tentang Kenabian dan Aulia. Srigungting; 2002
Kau sudah enam tahun. Semakin banyak bertanya yang kadang sulit untuk dijawab. Kadang engkau bertanya dari hal sepele sampai yan...
Muhammad yang Keenam Tahun
Monday, February 27, 2023
Tahun 2014, setelah pulang kampung, saya dan istri tetap berikhtiar untuk melakukan seperti apa yang kami lakukan di Kota. Menja...
Tak Sekadar Rumah dan Mereka Benar-benar Relawan
Tahun 2014, setelah pulang kampung, saya dan istri tetap berikhtiar untuk melakukan seperti apa yang kami lakukan di Kota. Menjadikan rumah sebagai tempat belajar. Rumah tidak hanya sebagai ruang privat, tapi ia harus punya fungsi-fungsi sosial. Di mana orang bisa datang berdiskusi membicarakan apa saja yang bisa mengembangkan diri dan yang terpenting anak kami punya ekosistem belajar.
Akhirnya, kami buatlah teras rumah sebagai rumah baca. Buku-buku koleksi kami dipajang di teras itu. Tapi memajang buku saja tentu tidak bisa menarik sepenuhnya orang untuk datang membaca dan diskusi. Atas dasar itu, kami buat program yang dapat memicu semuanya.
Hal lain yang saya pikirkan yakni mustahil bisa mengeksekusi semua program jika tak punya sumber daya. Saya mulai mengajak mahasiswa kenalan saya untuk terlibat jadi relawan di rumah baca. Tugas pertama mereka, menemani anak-anak SD dan SMP yang sering datang ke rumah baca untuk belajar dan bermain. Dibuatlah jadwal tetap setiap akhir pekan. Selain itu, merkeka juga mengawal program 17an, maulid dan kajian keilmuan serta kelas menulis.
Proses itu berjalan hampir setahun. Setelah itu vakum. Banyak hal menjadi alasannya. Relawan punya kesibukan lain. Urus kuliah, jadi sarjana, cari kerja jadi alasan utama dan mungkin juga jarak yang jauh dari Kota Palopo ke Luwu tempat rumah baca. Dan saya tidak bisa memaksakan mereka untuk jadi relawan secara terus menerus. Rumah baca tidak bisa memberikan apa-apa untuk masa depan mereka. Hidup ada batas di mana mereka tetap harus realistis. Saya maklum.
Bagaimanapun, saya tetap berterima kasih sebesar-sebesarnya kepada relawan angkatan pertama Rumah Baca Akkitanawa. Ada Al, Didin, Anggi, Aldo, Alam, Kuje, Dilla, Andri dan Wiwin. Nama-nama inilah yang menemani kami awal-awal rumah baca. Kini mereka sudah berpencar. Mencari nasibnya masing-masing.
***
Sejak "ditinggal" oleh relawan, saya dan istri tetap pada posisi awal. Tak bergeser sedikit pun. Apa pun itu rumah baca harus tetap jalan. Istri saya mengambil alih mengajar anak SD dan SMP dan juga sesekali SMA yang datang privat untuk menyelesaikan tugas dari sekolah. Jadilah rumah baca ramai kembali. Hidup seperti apa yang kami cita-citakan. Ditambah anak-anak semakin bersemangat karena akhir pekan kami buat Kemah Literasi. Semua anak-anak berkemah di rumah baca--lebih tepatnya menginap di rumah baca. Yang datang kemah biasanya sampai 30 anak. Rumah jadi padat nan ramai. Rumah baca jadi seru.
Tapi, keseruan itu seketika lenyap, rumah baca mulai hening, ketika pandemi datang. 2019 akhir, Covid-19 menyerang seluruh dunia termasuk Indonesia. Menyebar ke seluluh pelosok negeri. Semua jadi panik. Walau rumah baca letaknya di dusun, kami tetap takut pada pandemi ini. Selain menjaga keluarga kami, anak-anak lain pun perlu dijaga. Rumah baca kami tutup dari segala aktivitas. Dan itu cukup berlangsung lama. Hampir dua tahun.
***
Waktu Covid-19 masih menyebar, kami pikir, jika pandemi ini berakhir, sangat sulit lagi untuk memulai. Secara anak-anak sudah mulai punya dunia "lain". Sangat sulit menkosolidasikan ulang. Mengajak mereka lagi ke rumah baca. Menyasar mahasiswa untuk jadi relawan juga agak mustahil. Soalnya sudah lama mahasiswa tidak masuk kampus. Tentu sangat sulit mengajak mereka.
Ketika pandemi mulai landai, grafiknya mulai turun, dan pemerintah sudah membolehkan berkegiatan walau tetap jumlah terbatas. Saat itu, di 2021 menjelang ramadan, saya dan istri bersepakat membuat program madrasah ramadan. Program yang menyasar mahasiswa sebagai pesertanya. Konten dari acara ini seputar filsafat, agama dan sains. Program ini sebenarnya kami coba-coba saja. Ini semacam upaya untuk memulai setelah vakum lama. Kalau ada yang minat syukur, jika tidak ada juga tidak apa-apa.
Kami bukalah pendaftaran dengan kuota terbatas hanya 20 orang saja. Kemudian flayer kami sebar di media sosial. Dan tak kami sangka, peserta yang mendaftar sangat banyak. Walaupun kemudian 17 orang final ikut kegiatan (Andi, Pajrul, Yusri, Fatur, Cida, Fendi, Mono, Faisal, Ishak, Sajdah Fatur, Haris, Ody, Amri, Olgar, Rajab, Hikmawan, Ilyas) Tapi dari 17 mahasiswa ini. Dan kemudian berkerucut pada 4 orang saja yang aktif hingga sekarang. Yang lain memiliki kesibukan masing-masing.
Pada 4 orang inilah sungguh kami ingin berterima kasih tanpa menafikan yang tak lagi aktif. Dari mereka rumah baca pada akhirnya menemukan relawan baru. Mereka ini yang kemudian merangcang kegiatan baru rumah baca seperti Youth Camp Literasi, Open Recruitmen Relawan Literasi, Kemah Literasi, hingga terbaru pendampingan literasi desa.
Sungguh kami tidak tahu seperti apa membalas kebaikan mereka. Mereka benar-benar relawan. Bayangkan saja Kakak Pajrul dan Kakak Yusril yang sering menempu 2 jam lebih perjalanan dari Malangke---Luwu utara ke rumah baca--Luwu. Apalagi sekarang ini, dengan program baru rumah baca pendampingan literasi desa, setiap pekannya mereka harus mengunjungi desa yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumah baca. Di perjalanan, mereka kadang menghadapi situasi sulit. Motor yang mereka pakai rusak seperti bannya bocor berkali-kali. Itu akibat melewati jalan bebatuan yang tajam-tajam.
Jika Anda sekarang sering menonton RBA Official, chanel Youtube rumah baca dengan program ORASI (obrolan seputar literasi) maka itu dihandel oleh Kakak Ody salah satu relawan rumah baca yang tersisa dari kegiatan madrasah ramadan. Ia sempat menjadi kepala suku rumah baca. Selain Kakak Ody, ada Kakak Haris bertugas sebagai desain grafis rumah baca. Jika Anda sering melihat publikasi bentuk flayer dan vidio rumah baca, itu buah dari tangannya. Ia benar-benar sangat membantu rumah baca dalam hal kampanye literasi.
Berkat mereka ini, akhirnya rumah baca menemukan relawan baru melalui program Sekolah Relasi (Relawan Literasi). Di angkatan pertama dan aktif hingga sekarang ada Kakak Hasrul, (sekarang kepala suku rumah baca), Kakak Shaim, Kakak Afni, dan Kakak Andri. Sedang angkatan kedua tersisa Kakak Dhea dan Kakak Enjel. Yang terbaru angkatan ketiga ada Kakak Thalib, Wansa, Agung dan Kakak Ara.
Selain mereka yang bergabung di rumah baca melaui proses pendidikan, ada juga karena kedekatan dengan saya dan istri dan juga sangat senang dengan literasi, hingga mereka sering datang bantu-bantu di rumah baca. Di posisi ini, ada Kakak Niar, Lia, Mitha, dan Kakak Momo.
Ada perasaan getir jika melihat teman-teman relawan dengan segala yang mereka punya berkorban untuk rumah baca. Padahal mereka juga secara ekonomi tak baik-baik. Di sini, kadang timbul pertanyaan kenapa bukan mereka yang mapan secara ekonomi mengambil jalan ini. Jadi relawan? Untuk satu ini, mungkin memang hanya mereka yang merasakan derita bisa mengerti dan bertindak walaupun itu kecil untuk sesamanya.
Saya tidak tahu, seperti apa saya harus berterima kasih kepada mereka. Secara materi, minimal menutupi transpor mereka pun tak pernah saya beri. Karena jika saya punya duit itu hanya cukup untuk menjalangkan program. Itu pun jika tak cukup, dengan berat hati, dengan menahan rasa malu, saya biasa menghubungi kawan-kawan untuk membantu. Cukup banyak yang merespon. Tapi, tak sedikit pula yang cuek saja.
Seharusnya memang rumah baca sudah wajib punya usaha yang bisa menopang setiap program dan relawannya. Agar rumah baca tak lagi mengandalkan bantuan. Gerakan, idealnya wajib mandiri secara ekonomi. Ide ini sebenarnya telah saya dan istri eksekusi. Kami telah membuka usaha untuk rumah baca. Dan kami sudah mencobanya tiga kali.
Pertama, kami pernah usaha, bisnis online dengan kerjasama dengan teman berujung gagal. Kedua, pernah juga mendirikan PT yang bergerak di media. Tapi tak berjalan mulus sebab adanya perbedaan pandangan. Saya memilih mundur dari perusahan tersebut. Ketiga, usaha ternak jual beli sapi, hal serupa terjadi seperti bisnis sebelumnya. Gagal. Sekarang modal pun belum kembali.
Walau usaha selalu tak berjalan mulus. Ide ini masih tersimpan di kepala. Suatu saat, mungkin kami akan menemukan usaha yang bisa menopang relawan dan program rumah baca. Amin.
Wednesday, February 8, 2023
Saya mengalami hampir tiap hari. Sepulang dari tempat kerja di sore hari tentu melelahkan. Malam idealnya untuk istirahat. Tapi,...
Buku Cerita dan Imajinasi
2004, semenjak Riri Reza dan Mira Lesmana meliris film Gie rasa penasaranku akan "alam bebas" seperti gunung muncul. A...
Muhammad Belajar Nanjak
Wednesday, January 18, 2023
Sudah tiga tahun tiga bulan saya menjadi fasilitator desa. Waktu yang tentu belum cukup lama jika kita bekerja dalam desa dengan...
Sebuah Pengalaman tentang Desa
Sudah tiga tahun tiga bulan saya menjadi fasilitator desa. Waktu yang tentu belum cukup lama jika kita bekerja dalam desa dengan segala kompleksitasnya. Di desa sudah banyak berubah. Dulu, mungkin "patronase" menjadi wajah desa. Dulu, desa sangat tergantung pada sosok yang punya karismatik.
Seperti kata Weber, karisma adalah kekuatan revolusioner serupa dengan "akal" yang bekerja dari luar. Mengingatkan situasi kehidupan dengan masalah-masalahnya. Sosok karisma mampu mencerdaskan individu lain. Mencerahkan dengan lakon hidup yang patut dicontoh. Tokoh karismatik memiliki kekuatan spiritual membaca arah zaman. Sosok karisma tampil menjadi kohesi sosial di desa.
Dulu, individu yang menjadi pemimpin di desa dianggap memiliki kelebihan di atas rata-rata masyarakat desa pada umumnya. Ia memiliki daya magis agar warga menjadi taat, patuh pada nilai-nilai luhur yang ada.
Kini, desa sudah berjalan dengan dinamikanya yang baru. Tentu tak lagi sama dinamika yang lalu-lalu. Tokoh karismatik semakin sulit ditemukan. Para pemimpin kepala desa umumnya tak memiliki kekuatan sebagaimana tokoh karismatik. Kini, pemilihan kepala desa tidak lagi berdasarkan sepenuhnya pada ketokohan dengan kelebihan tertentu (karisma) tapi melalui hitung-hitungan pada bilik suara. Dan, di sana transaksi berjalan dengan apik, halus, sistematis dan massif.
***
Semenjak Undang-Undang Desa lahir, desa diharap bisa menentukan arah masa depannya sendiri secara terukur. Partisipasi desa dalam pembangunan adalah ide-ide yang termaktub dalam undang-undang tersebut. Demokratitasi desa adalah wajah lain dari UU Desa itu. Tapi, kadangkala teori berjalan pada sisi kanan dan praktik pada jalur kiri. UU Desa bukan tanpa risiko. Adanya UU Desa akhirnya mengalir juga dana desa yang cukup besar ke rekening desa. Di sinilah awalnya. Titik inilah celanya.
Dana desa yang cukup besar punya wajah ganda dipraktiknya. Sesarinya ia penunjang dalam melaksanakan ide-ide dalam UU Desa, namun, melahirkan wajah lain. Justru dana desa punya pengaruh pada wajah sosial desa. Perburuan pemimpin di desa menjadi titik dasarnya. Di titik inilah karisma pemimpin tak lagi utama. Calon pemimpin bukan lagi pada modal sosial yang panjang. Tapi pada modal uang yang besar. Konflik kepentingan semakin tinggi. Gesekan masyarakat semakin panas. Sosial desa jadi amburadul. Kohesi sosial jadi retak.
Benar, dana desa tentu punya nilai positif. Sudah ribuan kilometer jalan tani, drainase, rabat beton hadir di desa yang dulunya susah direalisasikan. Susah dikerjakan oleh masyarakat sendiri. Tapi, semua itu, ada juga yang tidak tepat sasaran. Sisi lain, banyaknya pembangunan infrastruktur fisik di desa pada akhirnya menafikan pembangunan manusia dan budayanya. Pemberdayaan tidak menjadi prioritas. Ia hanya menjadi pilihan kedua.
***
Sekali lagi, tiga tahun tiga bulan saya menjadi fasilitator di desa, di Kecamatan Bajo Barat Kabupaten Luwu, tentu masih waktu yang singkat. Perubahan pola pikir di kalangan pemerintah desa dan masyarakat bukanlah pekerjaan mudah. Perihal satu ini, saya seperti melihat kura-kura yang berjalan. Sungguh lambat. Namun harapan tetap ada, sebab ia masih terus bergerak.
Saya melihat sedikit demi sedikit program pemberdayaan sudah menjadi alam pikir pemerintah desa. Hal ini dapat saya ceritakan bagaimana desa-desa di lokasi dampingam saya merumuskan kebijakannya. Geliat membangun wisata untuk ekonomi desa kini menjadi rumusan di musyawarah desa bahkan sudah ada desa yang sedang mengerjakannya secara bertahap.
Selain wisata, peningkatan literasi desa menjadi hal lain dari kesadaran pemerintah desa. Literasi hal mendasar dibangun untuk generasi yang lebih baik kedepan. Saya membayangkan jika semua yang direncakanan berjalan maksimal, desa-desa di Bajo Barat akan punya keunikan masing-masing namun tetap terintegrasi satu sama lain.
Tuesday, August 2, 2022
Baru beberapa hari yang lalu, saya menyelesaikan salah satu karya Albert Camus: The Outsider. Sebuah cerita yang datar. Dengan kehidupan tok...
Kejujuran Meursault
Baru beberapa hari yang lalu, saya menyelesaikan salah satu karya Albert Camus: The Outsider. Sebuah cerita yang datar. Dengan kehidupan tokohnya yang juga datar namun tindakannya melahirkan amarah banyak orang. Terutama pengadilan.
Jika tak sabar, mungkin saja saya sudah tidak melanjutkan membacanya. Tapi, sejak awal saya selalu tertarik dengan Albert Camus. Mungkin itu yang membuat saya sabar membacanya.
The Outsider, bagi saya tak hanya sekadar cerita. Ia menyimpan ledakan pikiran akan seperti apa kita di hadapan kehidupan. Camus, mengurainya dengan menampilkan tokoh Meursault yang "polos". Tokoh yang apa adanya terhadap kehidupan yang dijalaninya.
Meursault seorang pemuda yang sejak kecil ditinggal oleh ayahnya. Ia tumbuh bersama ibunya. Namun di usia senja ibunya, ia menitipkannya di panti jompo. Meursault tak bisa menemani ibunya. Di panti jompo, ibunya bisa punya banyak teman. Punya lawan bicara di mana dirinya tak bisa lakukan pada ibunya. Begitu harapannya ketika ia menitipkan ibunya.
Tapi siapa yang menyangka, berawal dari semua itu, ketika di suatu hari telegram datang dari Panti Wreda. Sebuah kabar duka: Ibunya meninggal. Dan akan dimakamkan besok. Di pemakaman ibunya, ia menolak melihat mayatnya. Dan Meursault tak meneteskan air mata setetes pun.
Karena sikapnya itu, ternyata menjadi masalah besar buatnya. Menjadi bagian dari penilaian hakim padanya. Dinilai pembunuhan yang dilakukan Meursault beberapa hari setelah pemakaman ibunya punya hubungan.
Meursault menembaki orang Arab di sebuah pantai. Kejadian itu bermula dari perkelahian di antara mereka. Orang Arab itu sebenarnya tidak punya masalah dengan Meursault. Tapi, Raymondlah yang berurusan dengannya. Raymond ini adalah sahabat Meursault. Karena perkawanan itu, Meursault terbawa ke lingkaran masalah itu. Ia membunuh musuh sahabatnya.
Di pengadilan, segala tanya datang padanya. Mengapa ia tidak menangis di kala ibunya meninggal? Kenapa ia tidak mau melihat mayat ibunya? Mengapa masih dalam keadaan berduka melakukan hubungan badan dengan kekasihnya: Marie? Mengapa setelah melepaskan tembakan satu kali, sempat berhenti, lalu berikutnya memberondong empat kali tembakan ke tubuh orang Arab itu?
Semua tanya itu, dijawab oleh Meursault dengan apa adanya. Dengan apa ia rasakan. Tak juga ia berusaha membela diri. Datar saja. Intinya jawaban yang ia berikan betul-betul dari dalam dirinya. Ia tak bisa menangis melihat ibunya meninggal. Buat apa lagi melihat mayat ibunya. Ia alamia saja melakukan hubungan badan dengan kekasihnya. Insting saja untuk melakukan tembakan lima kali karena ia memang merasa marah.
Tapi semua jawaban apa adanya yang , ia berikan, tak bisa menyelamatkan dirinya dari hukuman mati. Tapi bagi Meursault, di dalam kurungan penjara menanti fajar, ia berkata, mati hari ini akan sama saja dengan mati dua puluh tahun kedepan.
Di dalam tahanan, pendeta datang untuk memintanya bertobat sebelum kematiannya. Namun, Meursault menolak. Ia tak mempercayai Tuhan. Justru kehadiran pendeta itu menjengkelkannya. Pendeta, juga pengadilan sebelumnya meminta Meursault menyesali kejahatannya. Meursault menolak. Ia menerima semua konsekuensi perbuatannya. Tak harus menyesal.
Menurut Albert Camus, ada yang salah paham terhadap tokoh Meursault yang dibuatnya. Ia mengira tokoh Meursault orang terbuang sebab ia tidak mengikuti semua anjuran. Padahal bagi Camus, Meursault orang yang menolak berdusta. Ia jujur mengatakan yang dirasakan dalam hati manusia. Tak mencoba mengkhianati apa yang ada dalam hati. Semuanya apa adanya.
Camus melihat Meursault, tokoh yang dibuatnya sebagai orang yang malang dan apa adanya. Orang yang mencintai matahari yang tak meninggalkan bayangan. Jauh dari kekurangan semua sensibilitas. Meski dianggap negatif, tapi ia benar dalam memperjuangkan perasaan dirinya. Ia wujud kemenangan atas diri sendiri. Tentu Camus menawarkan semangat eksistensialis. Merdeka atas diri sendiri. Menanggung secara mandiri segala konsekuensi dari pilihan. Selebihnya tak ada lagi.
Saturday, July 30, 2022
Entah kenapa buku selalu punya magnet bagi saya. Setiap berkunjung ke rumah teman, lalu teman itu punya perpustakaan di rumahnya...
Perihal Buku
Voltaire seorang filosof Perancis pernah berkata, cara terbaik menilai seseorang bukan dari jawaban yang dia berikan, melainkan ...
Seni Bertanya Socrates
Voltaire bertanya. Ia gelisah pada hidup yang dimaknai bahwa semuanya sudah berjalan harmonis. Ia ingin mengoreksi cara pandang ...
Candide dan Sebuah Kritik
Thursday, June 23, 2022
Akhirnya saya menuli s kannya. Setelah sekian lama hanya menyimpannya dalam kepala. Membiarkannya begitu saja. Kali ini, saya in...
Jalan Buntu Pegiat Literasi di Luwu
Akhirnya saya menuliskannya. Setelah sekian lama hanya menyimpannya dalam kepala. Membiarkannya begitu saja. Kali ini, saya ingin menuliskan literasi di Luwu.
Berawal dari sebuah pertemuan pegiat Taman Baca Masyarakat (TBM) se-Luwu, di forum itu terjadi diskusi, dimunculkan data-data tingkat literasi Luwu. Sungguh miris. Kalau tidak salah, Luwu menempati urutan 15 tingkat literasi di Sulsel. Kategori penilaian yakni ketersediaan infrastruktur perpustakaan sekolah dan desa, ketersediaan bacaan dan minat baca.
Barangkali data ini tepat, sebab sejauh pantauan saya, dari 207 desa, mungkin hanya satu-dua saja desa yang perpustakaannya berfungsi. Ditambah lagi beberapa sekolah perpustakaannya beralih fungsi jadi gudang.
Jangankan perpustakaan desa dan sekolah, perpustakaan daerah saja sangat sepi. Perpustakaan daerah hanya ramai oleh pegawai. Beberapa kali saya berkunjung ke perpustakaan dan melihat daftar pengunjung, bayangkan setiap harinya hanya belasan saja pengungnjung. Mungkin tepat anekdot kawan-kawan selama ini, bahwa jika ingin melihat tempat yang paling sepi selain kuburan lihatlah perpustakaan.
Berdasarkan fenomena dan data di atas, mungkin tidak salah jika kita mengatakan bahwa Luwu sebenarnya mengalami darurat literasi. Berdasarkan data ini pula, kami di Rumah Baca Akkitanawa dan pegiat literasi dari komunitas lain merasa terpantik. Dengan pertimbangan akselerasi gerakan literasi, tidak ada salahnya jika ada kolaborasi yang baik antara pegiat dan pemerintah dalam hal ini Dinas Perpustakaan.
Maka dengan itu, saya membuka komunikasi dengan Dinas Perpustakaan. Mengajaknya untuk berkolaborasi. Saat itu, dicetuskan untuk perekrutan relawan literasi yang kelak relawan ini akan dikukuhkan sebagai relawan literasi Luwu. Mereka nantinya akan bergerak membangun literasi di desa dan sekolah Membuat program-program literasi yang lebih inovatif dan kekiniaan. Mereka nantinya, sekaligus berfungsi sebagai kurir buku yang akan mengantar buku-buku Perpustakaan Daerah ke desa dan sekolah serta ke komunitas literasi, sehingga dengan begitu Perpustakaan Daerah berubah menjadi Bank Buku.
Akhirnya pendaftaran dibuka. Antusiasme pegiat literasi sungguh di luar dugaan. Kepedulian kepada literasi Luwu sangat tinggi. Sekitar 50 orang yang mengisi form pendaftaran. Kemudian dibuatlah group relawan. Dari group itu, difasilitasi oleh Dinas Perpustakaan, relawan yang telah mendaftar dipertemukan dalam acara bincang-bincang. Dalam pertemuan itu juga disepakati akan diadakan sekolah relawan, sebelum teman-teman pegiat terjun ke lapangan. Rencana saat itu, sekolah relawan sesegara mungkin dilakukan. Tapi, setelah hampir setahun, tak ada kabar kapan sekolah relawan dimulai. Semangat teman-teman juga mulai memudar. Bahkan sudah banyak yang keluar dari group. Mereka kembali di komunitas masing-masing. Bergiat dengan program mereka. Begitu pun dengan kami di Rumah Baca Akkitanawa.
Lama menunggu, akhirnya di bulan Juni ini, Rumah Baca Akkitanawa (RBA) mengambil inisiatif untuk membuka rekrutmen relawan literasi (RELASI) yang menyasar remaja. Lagi-lagi kami mencoba mengajak Dinas Perpustakaan, tentunya dengan meminta mereka berkontribusi. Tetapi dengan alasan tak ada diprogram mereka kegiatan seperti yang kami akan lakukan, sehingga mereka tidak bisa berkontribusi dan berkolaborasi. Akhirnya kami harus jalan sendiri.
Sejauh interaksi saya dengan orang-orang di Dinas Perpustakaan, mereka memang rata-rata mengeluh dengan minimnya support anggaran ke dinas mereka. Bahkan kalau tidak salah, satu bidang hanya diberi 10 jutaan selama setahun untuk buat program. Jika ini benar, ada kemungkinan peningkatan literasi memang tidak menjadi bagian dari visi-misi pemerintah daerah. Bupati Luwu sepertinya tidak memasukkan dalam rumusnya bahwa literasi adalah dasar dari segala pembangunan. Padahal jika kita baca sejarah, Eropa bisa mengalami kemajuan sekarang ini, karena 400 ratus tahun lalu telah menyadari pentingnya literasi.
Atau di sisi lain, bisa jadi pegawai perpustakaan yang kurang kreatif mencetuskan program yang inovatif yang bisa menjadi perhatian dan mendatangkan anggaran untuk memajukan literasi di Luwu. Mungkin saja benar pandangan selama ini, bahwa rata-rata pegawai yang ditempatkan di Dinas Perpustakaan, sejatinya adalah pegawai yang "dibuang" dari dinas lain.
Di mana bisa jadi pegawai-pegawai itu, tidak punya pengalaman dalam hal gerakan literasi. Sangat minim kecintaan pada literasi. Mungkin saja mereka baru memiliki kedekatan dengan literasi setelah menjadi pegawai di Dinas Perpustakaan. Dengan kata lain, pemilihan pegawai yang bekerja di Dinas Perpustakaan bukan berdasarkan kapasitas dan pengalaman mengelola literasi. Akan tetapi karena mereka dulunya bersebrangan politik dengan Bupati yang terpilih. Tapi, semoga tidak demikian. Tapi jika itu benar, maka sangat wajar jika Dinas Perpustakaan kurang memiliki terobosan yang inovatif. Program yang dilakukan nyaris itu-itu saja setiap tahunnya.
Asran Salam
Founder Rumah Baca Akkitanawa
Saturday, November 13, 2021
Di bentangan sejarah manusia, selalu saja ada yang menakjubkan yang dapat kita jumpai. Walau di sisi lain, tragedi tak juga...
Maulid dan Ketika Toleransi Jadi Kata Kerja
Di bentangan sejarah manusia, selalu saja ada yang
menakjubkan yang dapat kita jumpai. Walau di sisi lain, tragedi tak juga dapat diindahkan. Ia seperti dua sisi
yang selalu saja hadir dalam kehidupan kita. Seolah-olah ia memang dicipta
demikian adanya.
Di belahan lain tragedi begitu jelas tergambar di depan
mata, seperti ingin membawa kita pada situasi kehilangan harapan. Apa yang bisa
kita harapkan dari situasi perang, diskriminatif, pengasingan karena perbedaan?
Karena agama, keyakinan dan suku yang berbeda, kita rela melukai siapa pun.
Kita mudah saja memberi label kepada siapa pun.
Fanatisme menguasai alam pikir kita. Doktrin teologi kita
bukan tentang Tuhan yang damai, tapi Tuhan yang pemarah. Pada situasi seperti
ini seolah-olah damai tak memiliki kemungkinan. Dunia adalah kecamuk. Dan kita
adalah aktor yang selalu siap berperang. Melahap individu dan kelompok lain.
Menjadikannya tak memiliki eksistensi.
Pada wajah seperti ini, saya lalu teringat dengan Martin
Buber. Ia filosof Jerman beragama Yahudi. Buber memperkenalkan sebuah relasi
manusia dengan di luar dirinya. Relasi
itu ia namai, relasi "I-It"--"Aku itu". Sebuah
relasi manusia dengan benda-benda. Di sisi ini, manusia "bebas"
mempergunakan sesuka hatinya. Kita ke sesama manusia sepertinya lebih banyak
membangun relasi seperti ini. Manusia yang lain, yang berbeda dengan kita,
diperlakukan apa saja sesuka hati kita. Kita posisikan mereka sebagai
benda-benda. Tak lebih.
Padahal perbedaan adalah fakta sosial. Ia sesuatu yang
objektif dalam kehidupan kita. Ia bukan konstruksi pikiran. Ia sesuatu yang
natural. Dalam agama kita sebutnya sunatullah.
Dogma yang membawa kita pada akhirnya tak mengenali fakta
sosial itu. Doktrin bekerja mengagresi pikiran untuk sampai pada kesimpulan,
bahwa realitas manusia itu harus tunggal. Soal keyakinan tidak boleh ada
perbedaan. Pikiran-pikiran begini sedang bekerja di sekitar kita. Berupaya
memengaruhi kita. Merusak kemanusiaan kita.
***
Beberapa hari yang lalu, di Rumah Baca Akkitanawa, rumah
baca yang saya dirikan mengadakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Di acara
maulid itu, saya melihat bagaimana fakta sosial itu dijalani tanpa risi.
Bagaimana perbedaan itu dilakoni tanpa kikuk. Ini seperti oase di gurun tragedi
kemanusiaan. Tragedi labeling kafir dan sesat.
Sehari sebelum maulid, baik masyarakat sekitar maupun
relawan rumah baca sibuk mempersiapkan segalanya. Rumah baca berdiri di tengah
masyarakat yang beragam suku dan agama. Di sini ada Kristen dan Islam. Ada
Bugis, Luwu dan Toraja.
Di acara maulid itu, mereka saling membahu. Anak-anak kecil
beragama Islam dan Kristen sibuk membuat bunga male. Bunga khas maulid. Ibu-ibu
baik Islam dan Kristen meramu makanan di dapur untuk sajian maulid besoknya.
Demikian juga sebenarnya di hari Natal, umat Islam ikut serta membantu saudara
kita yang Kristen.
Di sini, saya melihat toleransi benar-benar dihayati.
Dijalani tanpa ragu. Perbedaan tidak membuat segalanya jadi muram dan
menyeramkan. Namun keindahan begitu jelas bak panorama setalah hujan: pelangi.
Ada peristiwa kecil yang terjadi di maulid ini. Ketika
hikmah maulid selesai, dan acara maulid telah ditutup oleh pembawa acara,
selanjutnya diisi dengan kuis kepada anak dan ibu-ibu peserta maulid.
Pertanyaan diajukan. Tentu seputar Rasulullah Saw. Bagi yang bisa menjawab
oleh diberi hadiah Al-Quran.
Dari sekian orang yang menjawab, saya ingin bercerita soal
Maikal. Maikal merupakan anak binaan Rumah Baca Akkitanawa. Ia dengan fasih
menjawab siapa kakek, ayah dan ibu, anak-anak, serta paman Rasulullah Saw. Mengurai cerita yang sebelumnya diulas oleh
penceramah tentang kesediaan Rasulullah menerima tamu Kristen asal Turki di
Masjid Nabawi.
Maikal, sudah berumur 12 tahun. Kini menginjak kelas lima
sekolah dasar. Ia tumbuh dari keluarga Kristen
yang taat. Maikal menggugah kita atas
pengetahuannya tentang Rasulullah. Maikal menerima hadiah Al-Quran.
"Al-Quran ini saya akan berikan pada sepupu saya yang
Islam," ujar Maikal.
Maikal mengajarkan kita baiknya perbedaan diterima secara
polos. Tanpa ada curiga. Di antara kita yang berbeda iman, kita bisa saling
memberi. Saling menguatkan iman masing-masing. Maikal menguatkan iman sepupunya
dengan memberi Al-Quran. Maikal sungguh bahagia jika sepupunya bisa mengamalkan
Islam sepenuhnya.
Bagi saya, tindakan Maikal, adalah sikap pro eksistensi.
Sebuah laku yang ingin mendorong kebenaran orang lain yang berbeda dengannya.
Tidak hanya mengakui ada perbedaan (koeksistensi) tapi saling menyelami
satu sama lain.
Maikal menyelami sepupunya. Menyelami iman yang lain tanpa
harus berpindah iman. Maikal hanya ingin memastikan yang berbeda dengannya
menjalankan imannya dengan benar, sebab itu, Maikal bisa menuai damai. Lalu,
bagaimana dengan kita?
Asran Salam
Founder Rumah Baca Akkitanawa
Wednesday, October 27, 2021
Mya adalah peserta termuda di kelas. Usianya baru menginjak sekolah menengah pertama (SMP). Sejak pertemuan pertama, dia sud...
Pertemuan Kedua, Mya dan Kisahnya
Mya adalah peserta termuda di kelas. Usianya baru menginjak
sekolah menengah pertama (SMP). Sejak pertemuan pertama, dia sudah menarik
perhatian karena usianya. Sebab, sangat jarang, ada anak seusianya, ingin
terlibat kegiatan seperti ini. Ini sangat langkah.
Sebagaimana peraturan kelas, setiap pertemuan wajib membawa
tulisan. Mya pun tak ketinggalan. Kewajibannya sebagai peserta ia tunaikan. Ia
membawa tulisan dengan jumlah empat paragraf. Satu halaman kertas kuarto.
Tulisannya semacam cerita pendek. Mungkin cerita tentang dirinya sendiri.
Tentang hidupnya.
Overthinking begitu Mya memberi judul pada
tulisannya. Kira-kira judulnya bila diartikan dalam Bahasa Indonesia mengandung
arti pikiran yang berlebihan—atau pikiran yang belum terjadi.
Mya dalam tulisannya punya ketakutan. Pikiran-pikiran yang
mengganggunya, di saat malam sebelum tidur, mengantar pada tetesan air mata.
Pipinya menjadi basah hingga merembes ke bantal tidurnya. Begitu yang ia tulis.
Apa yang Mya takutkan? Ia takut akan masa depan yang tak
pasti. Takut jika sukses tak dapat ia raih. Merasa tak berguna jika tak mampu
memberikan kebahagiaan kedua orang tuanya.
Dalam tulisannya, Mya seperti sedang menyelami dirinya.
Bergulat dengan situasi yang ia hadapi. Mya telah melangkah jauh dibanding anak
seusianya. Ia benar-benar menjalani hidup. Menghayati setiap inci pikirannya.
Apa yang dilakukan Mya dengan memikirkan hidupnya, ibaratnya
telah menjalankan ajaran Socrates, "Hidup yang tak direnungkan adalah
hidup yang tak layak dijalani". Mya merenung dan merefleksikan segala laku
hidupnya melampaui usianya. Begitu makna yang saya jumpai dalam tulisan Mya.
***
Tulisan Mya bukan tanpa cacat. Ia punya cela seperti penulis
(yang tidak rutin menulis) lainnya. Hal teknis semisal penggunaan tanda baca,
ejaan yang tidak baku, serta penyusunan kalimat adalah sederet kekeliruan yang
kita jumpai. Walau demikian, Mya punya selera yang bagus dalam memilih diksi.
"Termenung sepi", contoh diksi yang ia gunakan
untuk menggambarkan bagaimana ia di dalam kamarnya sedang berjibaku dengan
pikirannya. Kata "sepi" bisa
jadi bukan tanpa orang lain. Tapi, ia gambaran pikiran yang tak banyak
dipahami. Tak banyak diuraikan. Mya menyimpannya sebagai ketakutan walau di
dalam dirinya sendiri ia tetap punya optimisme. Sebuah semangat bahwa ia bisa
mencapai masa depan seperti ia impikan: membahagiakan orang tuanya.
***
Selain Mya yang "spesial", semua peserta punya
cerita masing-masing. Tulisan yang mereka bawa sangat beragam. Dari sini, saya
punya keyakinan bahwa mereka pada dasarnya bisa menulis. Sisa mereka perlu
konsisten terus menulis untuk menemukan modelnya. Untuk mencapai bentuknya
sendiri. Tentu dengan dibarengi membaca.
Seperti yang dibilang orang, menulis itu mengibaratkan
olahraga untuk membentuk otot. Makin sering olahraga push up misalnya,
maka otot lengan akan terbentuk. Seperti itu pula dalam menulis, perlu
diulang-ulang agar otot menulis kita terbentuk.
Pada dasarnya memang kita semua bisa menulis, tapi menulis
dengan baik itu perlu dipelajari dan dilakukan. Caranya belajar, selain ikut
kelas menulis, kita bisa melihat tulisan-tulisan yang dianggap baik.
Atau melihat tulisan penulis yang sudah diakui melalui
karyanya. Dari sana kita menemukan bagaimana cara menyusun kalimat, menggunakan
tanda baca, memilih diksi, menyusun alur, membuat dialog dll.
Langkah awal, mungkin kita mengikuti gaya menulis orang
lain. Tapi, lambat laun dengan keseringan kita menulis, perlahan kita akan
meninggalkan gaya orang lain, kemudian dengan sendirinya, menemukan cara kita
sendiri.
Asran Salam
Founder Rumah Baca Akkitanawa
